Artikel

Breaking News

Di Malam Kelap itu Tersirat 100 Butiran Kesukaran



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoIcv1MtdFqnMkRQbhc4lYGdgPkhN2yNQa4cqy5ITlI9ACt9WG_VMargzeJJEi_Ax8auMGWZ1VFjUEtdntsIadt2AGVO-_HHkMn2kkqCRvTKifvdRRK7G-qLd9J5GvLRclf4lq4zhXDuE/s400/
Wp /Ilustrasih


Menepis rindu yang kian menghilang, tidak ada karil yang mengkaji tontonan perjalan kisah cinta di hampa kegelapan itu. Ada kisah gembira dan juga kisah sedih selalu menghantuinya.


Sejenak cemoh tempat menipisnya karil dalam puing-puing hujatan. Bila di kejar enggak disenangi, bila berharap enggak disayangi dan bila memohon enggak  menghilang. Itulah snake bisa, benci andai kulit Durian takut duri senang isinya.

Masi tersirat Alami bila dikenang di kenagan yang memupuk pola lama kiang tidak disegani kini karena bukan zamannya lagi, hanya sepoi angin menghembusinya, ia tak sadar jika penjengguk adalah hantu di bareng, mungkin malam penyebabnya.

Kisah kasih sayang terjadwal di bayang-bayang persiapan Natal menurun di kota yang dijuluki kota inji itu, keramean di sepanjang jalan sangat meriah, lupa akan julukannya, yang seharusnya ucapan “selamat Natal” yang dituliskan di poster itu tetapi poster pemilu yang  dituliskan,  bersama Lagu Kampanye yang selalu dihiasi di kota ini.

Julukan Kota Injil kian pudar, focus kesuksesan Jakarta meredam ideology masyarakat semakin Nampak, lagu natal kini tergantikan dengan Swara Toa Dari mesjid, akan kemanakah..? julukan bersejarah di Tanah ini, di fikiran dia kelap itu.

Keberadaan akan dirinya pada daerah ketinggian  yang bisa menjangkau sebagian kota itu, indahnya keindahan, bukan dihiasi oleh lampu natal tetapi lampu kendaraan serta perumahan.

Semakin Larut, bunyi kendaraan di jalan bukit itu semakin berkurang, Rasanya ingin lama di tempat bersiarah, tetapi ia pun harus meninggalkan tempat itu, sambil menyaksikan kapal putih lepas Kota bersejarah.

(by. sipetek)

Tidak ada komentar